Home » » Gaji 200 Cleaning Service Kantor Walikota Jaktim "Disunat"

Gaji 200 Cleaning Service Kantor Walikota Jaktim "Disunat"


Jakarta, Siasat Kota
Puluhan pekerja kebersihan (cleaning service) di kantor Walikota Jakarta Timur menjadi resah dengan status kekaryawanan mereka yang mengambang. Tak hanya masalah status, mereka juga mengeluhkan honor bulanan yang selalu di potong.
Salah satu pekerja di sana, WR (34) mengatakan masa kontrak kerja mereka telah jatuh tempo per 30 Juni 2014 silam. Perusahaan alih daya yang membawanya kini tengah melalui proses lelang oleh Pemerintah DKI. "Masalah status lelang belum jelas. Per tanggal 30 Juni kemarin, status kontrak kita sudah habis," kata WR, saat ditemui di Jakarta Timur, Selasa (1/7).
Padahal, WR mengatakan, proses lelang selalu dilakukan sebelum masa kerja habis. Dengan demikian, dia bersama puluhan pekerja lainnya tetap bekerja seperti biasa. “Tapi sekarang kita mengambang. Dulu sebelum kontrak habis, ada lelang. Tapi sekarang, kontrak udah habis, lelang belum ada," ujar WR.
Ia mengaku, sudah pernah menanyakan kepada perusahaan alih daya yang mempekerjakannya, yakni PT Trisnaryo Synergi. Terkait masalah status kekaryawanannya, pihak perusahaan hanya menjawab agar WR tetap bekerja. "Tetap disuruh kerja. Cuma ntar yang tanggung jawab yang pemenang lelang berikutnya. Jadi sekarang kita ngambang," ujar WR.
WR mengaku, dirinya bersama teman-teman sudah pernah melaporkan persoalan ini ke Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melalui pesan singkat ataupun email. Masalah ini juga sudah dilaporkan ke situs pemerintah, laporukp.go.id. "Saya juga sudah email ke Pak Ahok, sebulan yang lalu. Intinya mempertanyakan nasib kesejahteraan. Sampai saya juga kirim pengaduan ke laporukp.go.id, untuk masalah yang sama. Tapi belum ada tanggapan," ujar WR.
Tak hanya soal kontrak, selama belasan tahun bekerja, para petugas kebersihan ini hanya menerima honor per bulannya sebesar Rp800ribu. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibanding yang tertera dalam kontrak sebesar Rp2,2 juta. Upah sebesar itu telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Dulu Rp350 ribu per bulan, dua tahun terakhir sama perusahaan yang sekarang jadi Rp800ribu. Kami kerja dari pukul 06.00-18.00 WIB, kalau ada yang lembur terpaksa menunggu hingga larut malam," ucapnya.
NW mengungkapkan, upah sebesar itu tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya yang tinggal bersama istri dan dua orang anak yang masih berusia delapan dan dua tahun. Apalagi, setiap bulannya, NW harus membayar cicilan rumah sebesar Rp 600ribu. "Terpaksa mengandalkan tips dari pegawai, kadang pulang ke rumah sama sekali enggak bawa uang," ungkapnya.
NW menuturkan, terdapat sekira 200 petugas cleaning service yang mengalami nasib yang sama. Ratusan petugas kebersihan ini bekerja di beberapa gedung dan lapangan yang berada di area Kantor Wali Kota Jakarta Timur. Para pekerja tersebut bernaung di sejumlah perusahaan alih daya yang memenangkan tender. NW mengaku, para petugas kebersihan termasuk dirinya tak berani menanyakan dan memprotes nasib mereka. Para petugas ini khawatir dipecat. (BACHTIAR)

Siasat

Selamat Datang di siasat kota, kepercayaaan masyrakat menjadi prioritas buat kami, terimakasih
Topik :

Popular Posts